Mengajarkan Anak dengan Contoh

Sebagai orang tua adalah sebuah cita-cita dan harapan memiliki anak yang soleh dan soleha, menjadi anak yang patuh terhdap aturan dan siap dengan konsekuensinya jika melanggar aturan.

menerapkan aturan tentunya harus adil. adil disini buka berarti sama rata. misalkan si sulung (SD kelas 6) terpaut usia 5 tahun dengan si bungsu (TK) maka pemberian aturan harus menyesuaikan dengan perkembangan usia, begitu juga dengan punishment (hukuman) dan reward (hadiah).

pemberian instruksi kepada si Sulung, lebih mudah dengan memberikan instruksi dibandingkan si Bungsu.

ini pengalaman yang saya lakukan, mengajak si Bungsu (Laki-laki) supaya setiap sholat Maghrib ke Masjid. saya nggak mungkin menyuruh begitu saja, akhirnya ada moment yang baik yaitu bulan Ramadhan (sebenar semua hari moment nya juga Baik lho..) . ya anak mau dan senang ketika di ajak sholat magrib, Isya bahkan Subuh ke Mesjid. penerapan ini akhirnya berpengaruh terhadap kebiasaan anak. sampai sekarang walaupun tidak di ajak lagi, dia sudah duluan pergi ke Mesjid. Bahkan saat saya pulang Kerja menjelang maghrib sudah berada di Mesjid. Alhamdulilah…

Terkadang anak ada rasa malas juga tidak mau ke mesjid karena pengaruh tayangan acara TV yg menayangkan film Kartun di jam-jam tersebut. Akhirnya disni diberlakukan aturan, misalkan seperti Tidak ada yang boleh nonton TV sampai jam 19.00 atau bahkan sampai Malam. (termasuk juga saya, istri, dan Kakaknya) jika si Bungsu tidak ke mesjid/ tidak mau sholat maghrib. disinilah memberlakukan aturan dengan pemberian contoh. artinya jangan hanya Melarang anak menonton TV tapi Kita sebagai orang tua malah menonton TV.

Bagiamana penerapan aturan terhadap si Sulung ? si Sulung saya berikan aturan harus Belajar selepas Maghrib. Tapi kadang anak bertanya “Kan tidak PR” , Belajar itu bukan berarti harus ada PR. belajar jadikan sebuah kebiasaan rutinitas. di malam itu juga si Sulung disuruh mempersiapkan Buku2 dan Pakaian Seragam untuk Besok Pagi supaya Pagi-pagi tidak “rusuh” ketika mau berangkat Sekolah.

Di dalam memanggil si Sulung jangan biasakan memanggil nama langsung, melainkan lakukan sapaan sesuai dengan posisinya sebagai si Sulung, misalkan sebutan “Kakak”, “Abang”, “Teteh” dan seterusnya. ini juga dalam rangka megajarkan porsi tanggung jawab sebagai KAKAK. dan juga mengajarkan si Bungsu untuk terbiasa akrab ikut memanggil Kakak terhadap si Sulung.

Sebagai Orang tua jangan membicarakan Permasalahan pekerjaan di depan anak2, karena mereka belum memahami dan tidak harus tahu kesibukan dan “runyam”nya pekerjaan.

Hal menarik tapi sepele adalah membiasakan Cium Tangan / Salim istri kepada Suami, anak kepada Ayah, anak kepada Ibu. Lakukanlah saat berangkat kerja, pulang kerja, bahkan pulang dari Mesjid pun lakukan. ini mengajarkan anak untuk Hormat kepada yang lebih tua.

Saat si Ayah pulang kerja, sempatkan tanya kepada anak2 tentang suasana seharian di Sekolah, apa ada pelajaran yang menarik perhatian dan sebagainya. Jika saat baru sampe rumah dari pulang kerja si Bungsu mengajak main, maka sempatkanlah ikut permaianan walaupun hanya beberapa detik, lalu sampaikan kepada anak bahwa Ayah mau mandi dulu. jangan lakukan ngomel2 saat pulang kerja, bahkan ada kata-kata yang disampaikan kepada si Bungsu / anak : “Jangan ganggu Ayah…, Ayah capek baru Pulang Kerja nih.., sana main sama Kakak aja ..” si Bungsu akan tertekan, kenapa ? karena seharian dia berharap dan menanti Ayah nya pulang, tapi yang di nantikan malah tidak memberikan kebahagian.., ini akan berdampak pada psikologis anak yang akan mencari “Sosok baru” diluar sana.., apakah itu orang lain sampe kepada hal-hal negatif sebagai pelarian. Sosok Ayah sudah tidak ada di Hati anak lagi.

Sebagai orang tua apa yang Anda lakukan saat pagi menjelang bangun ? saya selalu melakukan belaian dan mengosok-gosok punggung si Bungsu supaya bangun dan melakukan aktivitas pagi. sempatkan juga menyuapin sarapannya. nyuapin anak bukan tugas satu-satunya seorang Ibu saja. seorang Ayah pun bisa melakukannya. ini untuk membangun ikutan emosional lahir bathin antara anak laki-laki dan Ayah. Seorang Ayah harus lebih dekat dengan anak laki-lakinya, sedangkan si Ibu harus lebih dekat dengan anak perempuannya. anak laki-laki akan belajar banyak dari si Ayah dan anak-anak perempuan akan belajar banyak dari si Ibu. begitulah yang harus lakukan agar anak tumbuh sesuai kodratnya.

Nah… pengunjung setia Blog Hipno For Edu, mulailah saat ini kita ..mengajrkan sesuatunya itu dengan Contoh dari perilaku Kita Orangtua. sampai jumpa di ulasan lainnya.

Salam Hipno For Edu.

About these ads

  1. Blog yang inspiratif pak. salam kenal.




Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


  • Pengunjung Online

  • Twitter Sudarma

  • FB Sudarma

  • My Almamater


    1st Almamater Elektro UNJ 1991-1998


    2nd Almamater Otomasi Industri - Elektro ITB 2006-2008


    3thd Almamater engineering manafucature - Univ Pancasila 2010
  • Polling hari ini

  • Pencerahan Anak Bangsa







  • I’M a BLOGKAR

    Blogger Karawang
  • Blog Indonesia


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 120 pengikut lainnya.